SISTEM PEMBAYARAN



 

Selamat datang di Link Bank Indonesia Purwokerto

Link ini menyajikan data dan informasi mengenai Perekonomian, Perbankan dan Sistem Pembayaran di wilayah kerja bank Indonesia Purwokerto meliputi Kabupaten Banjarnegara, Kabupaten Purbalingga, Kabupaten Banyumas, dan Kabupaten Cilacap.

 

Hasil Penelitian Terbaru

Survei Penjualan Eceran

    1. Latar Belakang

Salah satu tugas Bank Indonesia sebagaimana diamanatkan oleh UU No.23 tahun 1999 tentang Bank Indonesia (BI) sebagaimana telah diubah dengan  UU No. 3 tahun 2004 adalah menetapkan dan melaksanakan kebijakan moneter dengan tujuan untuk mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah. Kestabilan nilai rupiah tersebut meliputi kestabilan nilai rupiah terhadap barang dan jasa maupun kestabilan rupiah terhadap mata uang lainnya. Berkaitan dengan hal tersebut, maka pengendalian inflasi yang secara langsung dipengaruhi oleh kebijakan moneter menjadi tanggung jawab Bank Indonesia.

Selengkapnya...

Penelitian Iklim Investasi Di Eks Karesidenan Banyumas

Secara sederhana dapat dikatakan bahwa iklim investasi mencerminkan sejumlah faktor yang berkaitan dengan lokasi untuk melakukan usaha atau investasi secara produktif dan berkembang. Lebih konkrit lagi, iklim usaha yang kondusif adalah iklim yang mendorong seseorang melakukan investasi dengan biaya dan risiko serendah mungkin di satu sisi, dan bisa menghasilkan keuntungan jangka panjang setinggi mungkin (Stern, 2002). Sebagai contoh beberapa studi menunjukan bahwa di Cina dan India, pada dekade 80-an dan 90-an yang menurunkan biaya dan risiko investasi sangat drastis, maka investasi swasta sebagai bagian dari Produk Domestik Bruto (PDB) meningkat hampir 200 persen (Tambunan, 2006).

Sejalan dengan pernyataan di atas, Mudrajad Kuncoro (2007) menyatakan bahwa iklim investasi di Indonesia secara umum lebih buruk dibanding Cina, Thailand, Vietnam dan negara-negara ASEAN lainnya. Iklim investasi dapat didefinisikan sebagai semua kebijakan, kelembagaan, dan lingkungan, baik yang sedang berlangsung maupun yang diharapkan terjadi di masa mendatang yang bisa mempengaruhi tingkat pengembalian dan risiko suatu investasi.  Pertambahan jumlah penduduk yang disertai dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat berdampak pada semakin meningkatnya kebutuhan akan sarana transportasi dan aktivitas industri. Hal ini berdampak pada meningkatnya kebutuhan akan bahan bakar minyak (BBM). Menurut data Automotive Diesel oil, konsumsi BBM di Indonesia sejak tahun 1995 telah melebihi produksi dalam negeri. Sementara itu, cadangan minyak bumi Indonesia diperkirakan hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan hingga 18 tahun mendatang, kecuali ada suatu penemuan yang luar biasa dalam eksplorasi sumber minyak baru. Perkiraan ini terbukti dengan seringnya terjadi kelangkaan BBM di berbagai wilayah Indonesia, baik itu BBM untuk mesin maupun minyak tanah untuk keperluan rumah tangga dan industri kecil, yang berdampak pada kerawanan sosial dan terhambatnya kegiatan ekonomi. Ketergantungan Indonesia terhadap minyak bumi sudah saatnya dikurangi, bahkan dihilangkan.

Detail klik Download

Pola Pembiayaan Syari�ah USAHA PENGOLAHAN GULA KELAPA

Di Eks Karesidenan Banyumas

Wilayah Eks Karesidenan Banyumas merupakan daerah yang cukup potensial bagi pengembangan gula kelapa. Hal ini disebabkan oleh tersedianya bahan baku gula kelapa yaitu nira yang didapatkan dari tanaman kelapa. Areal tanaman kelapa di Kabupaten Banyumas tercatat seluas 17.831,71 Ha dengan jumlah tanaman kelapa sebanyak 2.228.963 pohon. Dari sejumlah areal tanaman tersebut, luas areal tanaman kelapa yang digunakan sebagai kelapa deres adalah 4.599,56 Ha dengan jumlah tanaman sebanyak 588.612 pohon. Di Purbalingga luas areal 5.489,01 Ha, di Cilacap 5.952 Ha dan di Banjarnegara 1.307,05 Ha. Gula kelapa merupakan produk spesifik daerah Eks Karesidenan Banyumas dikarenakan mayoritas pasokan gula kelapa di Indonesia berasal dari wilayah Eks Karesidenan Banyumas. Produksi gula kelapa pertahun di Kabupaten Banyumas mencapai 45.507,89 ton, Kabupaten Purbalingga 53.490,29 ton,  Banjarnegara sebanyak 15.666,45 ton, dan Cilacap sebanyak  71.534 ton (Dishutbun, 2006).

Detail klik Download

 

Pola Pembiayaan Syari�ah USAHA PETERNAKAN KAMBING PERANAKAN ETAWAH

Di Eks Karesidenan Banyumas

Mata pencaharian masyarakat Indonesia sebagian besar adalah di bidang pertanian, khususnya untuk masyarakat pedesaan dan daerah tertinggal. Usaha peternakan sebagai sub bidang pertanian mempunyai peranan strategis untuk dikembangkan sehingga perlu diantisipasi secara optimal. Potensi wilayah dalam bentuk sumber daya alam dan sumber daya manusia serta sifat ternak kambing misalnya sangat mendukung untuk menjadi ternak andalan di masa yang akan datang. Pengembangan usaha di bidang agribisnis ternak kambing memiliki prospek sebagai penghasil bibit dan bakalan untuk menjaga produksi daging. Peluang bisnis ternak kambing memiliki prospek pasar yang baik, mengingat permintaan pasar lokal, regional bahkan global sebagai komoditas ekspor.

Detail klik Download

 

Pola Pembiayaan Jasa Pemberangkatan Tenaga Kerja Indonesia

Di Eks Karesidenan Banyumas

Penempatan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) ke luar negeri merupakan bagian dari upaya integral bangsa dalam upaya peningkatan kesejahteraan TKI dan keluarganya serta pengembangan kualitas sumberdaya manusia Indonesia. Secara makro, program penempatan TKI ke luar negeri bertujuan untuk mengurangi pengangguran sekaligus menambah perolehan devisa bagi negara (dari hasil remittance), yaitu pengiriman uang penghasilan TKI dari luar negeri ke Indonesia, yang biasanya dikirim melalui bank.

Detail klik Download